Seret Jodoh? Hati-hati Kadang Kamu Sendiri yang Bikin Jodoh Itu Tidak Sampai-sampai Kepadamu

Ada yang selalu mengeluh kapan “jodoh” itu datang menghampiriku, kapan seseorang yang “baik” datang kepadamu, dan seseorang yang bisa-bisa pas dengan pikiranku datang menyempurnakan hidupku.

Iya, pertanyaan-pertanyaan seputar itu pasti hinggap di kepala orang-orang yang saat ini sedang menunggu datangnya “jodoh”. Parahnya lagi ada yang berkata “seret jodoh”, padahal dia tahu bahwa apapun itu sudah memiliki waktu masing-masing dari Allah.

Namun, kamu tidak bisa berhenti dengan suara hati yang mengatakan “semuanya berwaktu”. Ingat, kadang seret jodoh itu memang kamu yang nyiptain, kamu yang mempersulit datangnya jodoh itu sendiri, sehingga dia tidak sampai-sampai kepadamu.

Allah Kadang Memberimu Pilihan, Tapi Karena Kamu yang Terlalu Pemilih Sehingga “Jodoh” Itu Pergi

instagram.com/mechull.yolcuu

Coba tela’ah lebih dalam lagi tentang apa yang telah kamu lalui selama ini, tentang siapa-siapa yang hadir menyapa hidupmu, pasti ada sebagian yang telah berniat baik kepadamu, pasti ada yang ingin serius denganmu.

Ada? pasti ada, kamu terkadang terlalu berangan-rangan yang sempurna, ketika yang datang tidak sesuai dengan kriteriamu, maka secara tidak langsung kamu menyuruhnya pergi.

Padahal, jika kamu mau lebih bersabar, benar-benar melihat orang-orang tersebut dengan hati, maka ada hal yang akhirnya bikin kamu tertarik dan mantap bilang “iya”.

Yang Pergi Katanya Bukan Jodoh? Katanya, Tapi Kadang Kamu yang Mengusir yang Ingin Menjadi Jodohmu Untuk Pergi

instagram.com/mechull.yolcuu

Sebagian lagi memilih mengelak dengan alasan “yang pergi katanya bukan jodoh”. Katanya, iya memang yang pergi bukan jodoh, tapi kadang kamu yang mengusir jodoh itu pergi darimu.

Buktinya, kadang ketika kamu tahu bahwa ada satu celah dalam dirinya, kamu menghapus kebaikan-kebaikan yang lain, dengan begitu entengnya berkata “ah pasti ada yang lain, yang sesuai kebutuhanku”.

Hey, ingatkan hatimu sekali lagi, beda tidak antara butuh dan ingin? takutnya yang kamu sebut butuh malah keinginan semata. Dan ketika sudah tabu antara ingin dan butuh, tentu yang benar-benar pas menurutmu tidak akan pernah kamu temukan.

Harus Ada Usaha Menjemput Jodoh, Jangan Hanya Diam, Pasrah, dan Tidak Ada Usaha Nyata Sedikitpun

instagram.com/mechull.yolcuu

Ada yang bilang lagi “usaha dong dijemput jodohnya”, kadang yang pikirannya lurus-lurus saja tidak memperhitungkan wacana seperti itu, dengan keyakinan “pasti bertemu bila tiba waktunya”.

Namun sebagian yang awalnya biasa-biasa saja pikirannya, lurus-lurus saja, tiba-tiba mengalami gelisah karena ternyata umur sudah terlampau senja karena asyik dengan wacana itu.

Lalu bagaimana? yang benar adalah jemput jodohmu, dan salah satunya adalah memperbaiki diri. Hanya itu? tentu tidak, kamu jangan hanya diam mematung, pasrah tanpa usaha, setidaknya kamu ikhtiar lewat pertemananmu, kerabatmu, atau lingkunganmu.

Tanda-tanda Jodoh Semakin Dekat Ada, Tapi Kamunya Sendiri yang Kadang Membuat Jeda Dengan Mencari yang Sempurna

instagram.com/mechull.yolcuu

Dan perlu kamu tahu, tanda-tanda jodoh semakin dekat itu sebenarnya ada dan kadang dekat, misal ada yang sudah berniat serius, ada beberapa hal yang menurutmu baik, tapi kadang kamu memilih “ya sudahlah” gegara tahu satu keburukan darinya.

Kebanyakan kamu masih berfantasi sosok yang “sempurna” sehingga kamu selalu menolak dan mempersilahkan pergi, hingga akhirnya ketemu orang yang modelnya begitu-begitu saja bosan, dan ternyata waktu sudah “senja”.

Sampailah Pada Akhir “Seret Jodoh”, Padahal yang Nyeretin Jodoh Kadang Kamu Sendiri yang Terlalu Sempurna Berekspektasi

instagram.com/mechull.yolcuu

Pada intinya sampailah pada akhir yang sering kamu keluhkan “seret jodoh”, padahal yang nyeretin jodoh itu kadang kamu sendiri, kriteria yang kamu patokin terlalu lebay, dan kadang lupa dirimu seperti apa.

Kata alinnya adalah kamu selalu berekspektasi yang sempurna, yang kebaikannya harus sekian, yang pengertiannya harus begini dan begitu, sehingga apa-apa yang terlihat semuanya biasa-biasa saja.