Mengenal Penyakit Inflammatory Bowel Disease yang Seperti Diare Biasa Padahal Mematian

liputan6.com

Inflammatory boweldisease (IBD) adalah penyakit autoimun yang juga dikenal dengan peradangan usus kronis ini bisa menciptakan komplikasi hingga kematian bagi penderitanya.

Jika tidak bisa diobati dengan tepat maka akan menyebabkan kematian. Biasanya, gejala dari penyakit IBD ini adalah diare.

Namaun sayangnya kesadaran masyarakat masih rendah terhadap penyakit IBD ini.

Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, Dokter Spesialis Penyakit Dalam & Konsultan Gastroenterologi Hepatologi RSCM-FKUI dalam Virtual Seminar Media hari ini menjelaskan, bahwa penyakit ini bisa menyebabkan sakit perut, kram, buang air besar atau diare.

IBD ini diklarifikasi sebagai gangguan organik yang disertai dengan kerusakan pada saluran pencernaan. IBD lebih bebrahaya karena bisa merusak usus secara permanen. Bahkan bisa menyebabkan kanker usus.

IBD dibagi menjadi 2 tipe yaitu

  • Ulcerative Colitis (UC) dan Crohn’s Disease.
    Terjadi peradangan hingga lapisan saluran pencernaan lebih dalam sehingga merasa nyeri dibagian kanan bawah perut, tapi pendarahan dari rektumcenderung lebih jarang.
  • Colitis Indeterminate (Unclassified). Pada Ulcerative Colitis (UC)
    Terjadi peradangan dan luka di sepanjang lapisan superfisial usus besar dan rectum, sehingga merasa nyeri dibagian kiri bawah perut.

Prof. Murdani menambahkan, gejala penyakit radang usus ini berbeda-beda, tergantung pada tingkatan keparahan peradangan dan lokasi terjadinya peradangan.

“keduanya memiliki tanda dan gejala umum yang harus diwaspadai adalah kelelahan, sakit perut, kram, nafsu makan berkurang, darah pada feses, dan penurunan berat badan,” kata Prof. Murdani.

Penyebab IBD
Prof. Murdani mengatakan penyebab IBD belum diketahui jelas, namun tentu disebabkan oleh gangguan sistem kekabalan tubuh.

IBD juga bisa disebabkan oleh diet dan tingkat sres. Faktor keturunan juga berperaan meskipiun angka penderitan sangat sedikit.

IBD yang dibiarkan kondisinya akan parah akibat komplikasi yang ditimbulkan. Pada UC, penderitanya bisa mengalami pembengkakan usus besar yang beracun, lubang pada usus besar,dehidrasi berat dan meningkatkan risiko Kanker Usus Besar.

Pada CD, penderitanya bisa mengalami bowel obstruction, malnutrisi, fistulas. Jika kedua jenis ini dibarikan maka akan menciptakan kompilkasi seperti gumpalan darah, radang kulit, mata dan sendi.

Pengobatan
dr. Rabbinu Rangga Pribadi, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSCM-FKUI mengatakan bahwa penyakit IBD bisa terkontrol dengan obat diet namun sewaktu-waktu bisa kambuh.

Para dokter memiliki beberapa pilihan pengobatan diantaranya, agen biologik namun obat ini tidak bisa bisa diaktess secara luas karena tidak ditanggung jaminan kesehatan.

Kadang kombinasi membutuhkan 2 ibat untuk mengontrol radang usus yang terjadi. Beberapa juga mmebutuhkan operasi untuk membuang bagian usus yang mengalami peradangan.

Ketika didaognosis, IBD harus memagami proses peradangan pada penyakit ini dan menjalani pengobatan, modifikasi gaya hidup sesuai dengan tingkatan IBD.

Juga berolahraha, berkumpul dengan pasien IBD lainnya agar bisa berbagi pengalam dan saling menguatkan.

Penyakit IBD bisa dilakukan dengan terapi obat, operasi pembedahan atau kombinasi keduanya. Bisa dilakukan terapi simtomatis, terapi step-wise, atau intervensi pembedahan.

Obat yang bisa digunakan untuk penyakit IBD adalah: aminosalisilat, kortikosteroid, dan imunomodulator juga beberapa vaksinasi.

IBD yang kronis mungkin memerlukan pembedahan untuk mengangkat bagian saluran pencernaan yang rusak.

Namun dengan adanya kemajuan dan inovasi pengobatan dengan obat-obatan jarang dilakukan sejak tahun belakangan.

Salah satu obat yang inovatif bisa digunakan oleh perawatan pasien dengan Kolitis Ulseratif (UC) aktif, sedang, hingga parah dan Penyakit Crohn (CD) adalah vedozulimab.

Studi menunjukkan temuan hasil jangka panjang yang konsisten dengan profil kemanan vedolizumab yang memiliki tingkat remisi klinis konsisten dan remisi klinis bebas kortikosteroid.